Kamis, 29 September 2011

RESUSITASI JANTUNG PARU

Resusitasi jantung paru (RJP), atau juga dikenal dengan cardio pulmonier resusitation (CPR), merupakan gabungan antara pijat jantung dan pernafasan buatan. Teknik ini diberikan pada korban yang mengalami henti jantung dan nafas, tetapi masih hidup.
Komplikasi dari teknik ini adalah pendarahan hebat. Jika korban mengalami pendarahan hebat, maka pelaksanaan RJP akan memperbanyak darah yang keluar sehingga kemungkinan korban meninggal dunia lebih besar. Namun, jika korban tidak segera diberi RJP, korban juga akan meninggal dunia.
Langkah yang paling tepat jika korban mengalami komplikasi henti jantung dan pendarahan hebat tergantung pada kemampuan penolong. Jika penolong sendirian dan mahir dalam mengendalikan pendarahan, maka penolong harus menghentikan pendarahan dengan cepat baru kemudian melakukan RJP. Jika penolong ada banyak, maka pengendalian pendarahan dan RJP dapat dilakukan secara bersamaan.
Langkah pertama dalam memberikan RJP adalah menentukan titik kompresi jantung. Titik ini merupakan tempat diletakkannya tangan penolong untuk menekan jantung. Titik kompresi jantung terletak pada pertemuan iga kanan dan kiri. Titik ini bisa diletakkan pada 2 jari diatas taju pedang atau lurus dengan garis semu antara puting susu.
AIRWAY
1.      Menilai jalan nafas
Look:
o   Gerak dada & perut
o   Tanda distres nafas
o   Warna mukosa, kulit
o   Kesadaran
                        Listen à Gerak udara nafas dengan telinga
                        Feel à Gerak udara nafas dengan pipi
                        Penyebab sumbatan jalan nafas
*      Paling sering : dasar lidah, palatum mole, darah, benda asing, spasme  laring.
*      Penyebab lain : spasme bronkus, sembab mukosa, sekret, aspirasi.
                       
                        Tanda sumbatan / obstruksi
        mendengkur : pangkal lidah (snoring)
        suara berkumur : cairan (gargling)
        stridor : kejang / edema pita suara (crowing)
Tanda lebih lanjut
        gelisah (karena hipoksia)
        gerak otot nafas tambahan                       
        (tracheal tug, retraksi sela iga)
        gerak dada & perut paradoksal
        sianosis (tanda lambat)
2.      Bersihkan jalan nafas
·      Bila curiga ada sumbatan, mulut harus dibuka paksa.
·      Gerak jari menyilang
·      Gerak jari dibelakang gigi
·      Gerak angkat mandibula lidah
1.   Jaga tulang leher (baring datar, wajah ke depan, leher posisi netral)
2.   Membebaskan jalan nafas
-    Head tilt (hati-hati pasien trauma)
-    Chin lift (hati-hati pasien trauma)
-    jaw-thrust
3.   Bersihkan cairan à suction
4.   pasang oro/ naso-pharyngeal tube
5.   pertimbangkan intubasi
BREATHING
o   berikan 2 nafas yang berhasil dada terangkat @ 500-600 ml (maksimal 1000 ml)
o   beri sela ekshalasi
o   beri oksigen 100% lebih dini
CIRCULATION
o   Lakukan raba nadi carotis
o   30 pijat - 2 nafas
      Jika trachea sudah intubasi
o   tak usah sinkronisasi
o   pijat 100x/ menit  + nafas 12 / menit
DEFIBRILLATION
o   DC shock sedini mungkin (sebelum 5-10 menit)
o   360 Joules
                        Jika defibrillation diberikan sebelum 5 menit,
                        > 50% kemungkinan jantung berdenyut kembali
RJP berhasilà
         Lanjutkan oksigenasi, kalau perlu nafas buatan
         Hipotensi diatasi dengan inotropik dan obat vaso-aktif (adrenalin, dopamin, dobutamin, ephedrin)
         Tetap di infus untuk jalan obat cepat
         Terapi aritmia
         Koreksi elektrolit, cairan dsb
         Awasi di  ICU
         awas: cardiac arrest sering terulang lagi

ECG dalam cardiac arrest ada 3 pola
(pada semuanya, nadi carotis tidak ada)
      VF / VT pulseless = ada gelombang khas
     shockable, harus segera DC-shock
     (ada VT yang nadi carotis (+) ® tak perlu DC-shock)
      Asystole = tak ada gelombang (ECG flat)
     UN-shockable
      PEA = EMD = ada gelombang mirip ECG normal
     UN-shockable

Bila Cardiac Arrest membandel, kemungkinan:
1. Hipoksia
4. Hipotermia
7. Thromboemboli paru
10. Digitalis, Tricyclic AD
2. Hipovolemia
5. Tamponade jantung
8. Toxic overdose
11. Massive MI
3. Hiperkalemia
6. Tension pneumothorax
9. Beta-blocker, Ca-blocker
12. Asidosis

Prosedur Tetap Resusitasi Jantung Paru (RJP)
Langkah ABC disebut Basic Life Support,
1.  Baringkan penderita dengan posisi terlentang, tanpa bantal dengan alas yang keras (dapat menggunakan papan resusitasi).
2.   Lakukan langkah A (Airway), bebaskan jalan nafas.
3.  Jika terjadi henti nafas lakukan langkah B (Breathing), lakukan bantuan pernafasan dengan cara mouth to mouth atau dengan ambu bag
4. Jika terjadi henti jantung lakukan langkah C (Circulation), pijat jantung luar bergantian dengan bantuan pernafasan. Frekuensi 15 kali kompresi jantung : 2 kali hembusan ambu bag
Untuk langkah DEFGHI disebut Advance and Prolong Life Support,
1.   Usahakan pemulihan sirkulasi spontan dengan jalan D (Drugs and Fluids), penggunaan obat-obatan adalah sebagai berikut:
a.    Cairan infus diberikan sesuai dengan indikasi
b.   Adrenalin diberikan 0,5-1 mg IV dapat dihitung 3 – 5 menit
c.   Sulfas atropin, untuk bradikardi dengan dosis 0,04 mg/kgBB atau langsung diberikan 0,5 mg IV dapat diulang seperlunya, dosis maksimal 2 mg
d.  Pemberian Meylon (Natrium Bikarbinat) untuk menetralisir asam yang terbentuk di jaringan yang iskemia akibat henti sirkulasi dengan dosis 1 meg/kgBB, dilanjutkan 0,5 meg/kgBB 10-15 menit kemudian. Pada henti nafas yang baru berlangsung 1-2 menit tidak perlu memakai meylon.
e.  Pemberian Xylocard 50 mg IV bolus untuk disritmia, VES (ventricel ekstra systole) dan untuk mencegah fibrilasi ventrikel
f.    Pemberian kalsium untuk meningkatkan kontraktilitas myocard digunakan Ca Glukonas 10 cc larutan 10 % bila perlu dapat diulang setiap 10 menit
g.  Pemberian kortikosteroid untuk anti inflamasi (oedem), retensi Na, ketahanan kapiler, dengan dosis 10-20 mg IV
h.  Pemberian dopamin untuk vasokonstiksi, dengan dosis dopamin 6-15 meg/kgBB/menit iv (200 mg dopamin dalam 200-500 cc D5% dengan kecepatan tetesan maksimal 20 tpm). Pakailah Dobutamin (Dobuject) sebagai pengganti dopamin jika heart rate tinggi / cepat
i.     Langkah E (Elektrokardiografi), lakukan monitoring EKG dan waspadai terhadap adanya VT/VF yang aneh/disritmi/asystole
j.   Langkah F (Fibrilation), dilakukan bila terjadi VT/VF. Mendahului kesiapan pelaksanaan DC Shock berikan Xylocard 50 mg IV.
k. Langkah G (Gauging), penilaian keadaan pasien untuk menentukan tindakan selanjutnya atau menghentikan RJP
l.     Langkah H (Human Mentation), resusitasi otak
m. Langkah I (Intensive care), pengelolaan rawat intensif.

Indikasi, Kontra Indikasi dan Penghentian RJP
Indikasi:
1. Ancaman gagal nafas
2. Ancaman henti jantung
Kontra Indikasi:
1. Fraktur Kosta, trauma thorax
2. Pneumothorax, Emphysema berat
3. Cardiac tamponade
4. Cardiac arrest lebih dari 5-6 menit
5. Keadaan terminal penyakit yang tidak dapat disembuhkan, misalnya Gagal Ginjal Kronis
Penghentian RJP:
1. Jika penderita sudah tidak memberikan respon yang stabil.
2. Pupil dilatasi maksimal
3. Tidak ada respon spontan setelah RJP selama 15-30 menit
4. Gambaran EKG sudah flat

Pelaksanaan RJP berbeda-beda, tergantung pada usia korban. Pelaksanaannya adalah sebagai berikut:
-     korban dewasa (lebih dari 8 tahun)
Jika penolong hanya 1, maka fase pertama RJP dikakukan sebanyak 4 siklus per menit yang tiap siklusnya terdiri dari 15 kali tekan jantung dan 2 kali nafas buatan. Setelah fase pertama selesai, korban diperiksa jantung dan nafasnya. Jika jantung dan nafas masih berhenti, pertolongan dilanjutkan dengan fase kedua yang terdiri dari 8 siklus (4 siklus per menit). Jika pada fase kedua ini jantung dan nafas korban masih berhenti, maka dilanjutan ke fase ketiga yang terdiri dari 8 siklus, demikian seterusnya.
Jika penolongnya 2 orang, maka 1 orang bertugas untuk menekan jantung dan 1 orang lagi memberi nafas buatan. Fase pertama RJP dilakukan dengan 12 siklus per menit yang tiap siklusnya terdiri dari 5 kali tekan jantung dan 1 kali nafas buatan. Jika korban masih belum bernafas, maka fase-fase selanjutnya dilakukan sebanyak 24 siklus (12 siklus per menit)

-     korban anak-anak (1 – 8 tahun)
Untuk anak-anak (baik itu penolongnya sendirian atau 2 orang), RJP dilakukan sebanyak 14 – 20 siklus per menit yang tiap siklusnya terdiri dari 5 kali pijat jantung dan sekali nafas buatan. Yang perlu diperhatikan disini adalah penekanan jantung tidak boleh terlalu dalam, hanya 3 – 4 cm saja, dan tiupan pada saat pemberian nafas buatan juga tidak boleh terlalu kencang.

-     korban bayi (kurang dari 1 tahun)
Untuk bayi (baik itu penolongnya sendirian atau 2 orang), RJP dilakukan sebanyak 20 siklus per menit yang tiap siklusnya terdiri dari 5 kali tekan jantung dan 1 kali nafas buatan. Untuk bayi yang baru lahir, RJP dilakuakan sebanyak 40 siklus yang tiap siklusnya terdiri dari 3 kali tekan jantung dan 1 kali nafas buatan. Yang perlu diperhatikan pada RPJ pada bayi adalah penekanan jantung dilakukan dengan 2 jari saja (jari tengah dan jari manis) dengan kedalaman 1,5 – 2,5 cm dan volume nafas yang diberikan hanya sebanyak penggembungan pipi penolong saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar